
Geliat Literasi SMAN 1 Terusan Nunyai Gali Potensi Karya Dalam Menulis
Smansateruna.sch.id - Gerakan Literasi Jumat (Geliat) di SMAN 1 Terusan Nunyai Lampung Tengah (Lamteng) terus digalakan dengan menggali potensi karya dalam menulis. Implementasinya dilaksanakan melalui ragam pengembangan, mulai belajar menulis berita menggunakan teknik jurnalistik hingga strategi dalam menulis cerpen yang menarik dan mudah pada Jumat (30/1/2026).
Kelas Jurnalistik
Menghadirkan narasumber Jurnalistik dari Radar Lamteng Group Suci Hartati,S.H, jurnalis sekolah diajak untuk lebih interaktif dan terus mengasah ketrampilan dari proses melakukan wawancara narasumber, lalu mengolah data, foto dan vidio hingga disuguhkan menjadi sebuah informasi berita ke ranah publik.
Bertempat di ruang auditorium, Suci Hartati menyampaikan pentingnya kelengkapan narasumber dalam sebuah berita. Sebagai langkah strategis menghadapi deras arus informasi di era digitalisasi, penting untuk melakukan antisipasi dan benteng diri dari risiko-risiko perbuatan yang tanpa disadari dapat terjerat pelanggaran hukum dari penggunaan media sosial. Sehingga pemahaman tentang UU ITE penting untuk diketahui sejak awal. “Untuk pengembangan isi berita dengan mendapatkan akurasi data dari narasumber itu prioritas dan menjadi sebuah kunci. Semakin bagus berita, semakin banyak narasumbernya, namun tetap dalam koridor batasan juga," jelas Suci.
Dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), tambah Suci setiap pengguna media sosial khususnya dilingkup pendidikan, pelajar harus mampu mawas diri, baik dalam mengaploud informasi, foto, vidio hingga dalam mengisi kolom komentar orang lain. Karena dalam UU ITE terdapat peraturan jelas akan adanya sanksi dari penyalahgunaan media sosial seperti pencemaran nama baik, tindakan asusila, merugikan konsumen, hingga penghinaan atas SARA yang bisa menjerat dengan risiko penjara hingga denda.
Ia menjelaskan berbagai contoh kasus yang marak terjadi, seperti penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mengubah foto maupun suara tokoh publik. Salah satu contoh yang disampaikan adalah kasus perubahan suara pejabat menggunakan AI. Selain itu, Suci mengingatkan bahwa komentar di media sosial seperti Instagram, Facebook, dan YouTube dapat menjerat seseorang pada pelanggaran Undang-Undang ITE apabila tidak digunakan secara bijak. "Jangan karena jari-jari, tanganmu diborgol besi dan badanmu masuk jeruji besi," pesannya.
Kelas Menulis Cerpen
Sementara itu di lantai tiga, waktu yang sama kegiatan literasi lain untuk siswa kelas X juga dilaksanakan dan diisi oleh Pemateri Fitri Handayani, seorang penulis sekaligus alumni SMAN 1 Terusan Nunyai. Dalam sesi bincang-bersama penulis, Fitri membagikan pengalamannya dalam dunia kepenulisan. Meskipun sempat mengalami kendala saat menyampaikan materi, penulis harus tetap berusaha mengendalikan diri.
Menurutnya, setiap siswa memiliki potensi untuk menjadi penulis, karena menulis bukan hanya tentang berbicara, melainkan tentang proses dan realisasi karya. “Menulislah dari hati, jangan memaksa. Insyaallah sampai ke hati. Tulisan itu soal rasa, bukan sekadar rangkaian kata," urainya. Dalam sesi tersebut Fitri mengangkat tema Menulis Sesuai Tema. Kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula, seperti kurang memahami tema sehingga cerita menjadi tidak fokus. Siswa diajak menganalisis dua contoh cerita yang sesuai dan tidak sesuai tema.
Selain itu, Fitri memberikan teknik menulis sederhana, seperti menentukan tokoh yang jelas dan alur cerita yang selaras dengan tema. Dua siswi yang maju membacakan cerita mendapatkan apresiasi berupa voucer belanja di kantin sekolah. Kepala SMAN 1 Terusan Nunyai Dra. Ratnawati, M.Pd, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini. "Diharapkan literasi siswa SMAN 1 Terusan Nunyai terus meningkat dan hasil dari kegiatan ini dapat diwujudkan dalam bentuk karya nyata," ujar Ratnawati.
Salah satu siswa, Bayu Ari Saputra dari kelas X.6, menyatakan bahwa kegiatan tersebut berlangsung menyenangkan. Kemudian Sebastianus Putra N. dari kelas X.9 mengaku mendapatkan banyak wawasan baru, terutama tentang cara membuat cerpen yang jelas dan mudah dipahami pembaca. "Banyak hal baru yang kami temukan dengan mengikuti literasi ini, dan berharap nanti dari hobi menulis akan melahirkan karya - karya yang diminati pembaca," ungkap Bayu.
(Dinda)

