
SMAN 1 Terusan Nunyai Tebarkan Inspirasi Semangat RA Kartini Lewat Kebaya Nusantara
Smasateruna.sch.id — Jarak yang jauh dari pusat kota bukan penghalang bagi SMA Negeri 1 Terusan Nunyai, Lampung Tengah (Lamteng), untuk menunjukkan gelora nasionalisme. Hal inilah yang menjadi simbol semangat perjuangan dari sosok seorang tokoh wanita dari pahlawan nasional yang melahirkan karya dan inspirasi untuk ditebarkan pada warga sekolah.
Ditandai dengan pelaksanaan upacara bendera Hari Kartini pada Senin (20/4/2026) sebagai wujud penghormatan juga digelarnya Kartini Day dengan menunjukan kreasi tampilan Kebaya Nusantara sebagai bentuk karakter ragam dan kekayaan budaya bangsa yang Bhineka Tunggal Ika.
Terlihat panorama lautan penuh warna kebaya yang penuh pesona dan kharismatik. Bukan sekadar seremonial, peringatan Hari Kartini di sekolah ini menjadi bukti nyata bahwa semangat juang RA Kartini tetap hidup dan relevan di tangan generasi Z. Para siswi tampil anggun dengan berbagai jenis kebaya dari berbagai khas daerah di bumi Nusantara ini. Sementara para siswa laki-laki mengimbangi dengan kegagahan kemeja batik bermotif khas daerah.
Kepala SMAN 1 Terusan Nunyai, Dra. Ratnawati, M.Pd., tampil sangat anggun dengan kebaya bernuansa biru yang memancarkan aura kepemimpinan sekaligus kelembutan. "Mari kita selalu jaga dan lestarikan kebaya sebagai identitas bangsa. Buatlah diri kalian tetap nyaman menggunakan kebaya dalam kondisi apapun. Besok kita buktikan bahwa pakaian tradisional tidak menghalangi kita untuk tetap produktif beraktivitas," pesannya.
Hal yang paling membanggakan, keesokan harinya aktivitas belajar berlangsung dengan baik dengan berbalut busana kebaya. Seluruh warga sekolah tetap melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) seperti biasa. Pemandangan di dalam kelas nampak unik, para siswa tetap tekun menyerap ilmu meski dibalut pakaian adat, membuktikan bahwa semangat belajar tidak boleh surut oleh pakaian yang dikenakan.
Warna-warni kebaya yang dikenakan para dewan guru hari itu seolah menjadi simbol bahwa semangat Kartini tidak pernah pupus. Ia terus tumbuh, beradaptasi, dan hidup di setiap generasi, membawa pesan bahwa pendidikan dan kebudayaan harus berjalan beriringan di tengah perkembangan zaman.
(Rzk)

