
Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Terusan Nunyai Belajar Sehari di Dapur Redaksi Radar Lampung TV
BANDAR LAMPUNG — Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Terusan Nunyai mengikuti kegiatan belajar sehari di dapur redaksi Radar Lampung TV yang berada di Jalan Sulthan Agung Bandar Lampung tepatnya Gedung Graha Pena Lampung pada Rabu (26/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi guru untuk mengenal lebih dekat proses kerja jurnalis serta aktivitas yang berlangsung di lingkungan redaksi media elektronik televisi.
Ketua Musyawarah Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Terusan Nunyai, Kristinah Dewi Rahayu, S.Pd, menjadi salah satu guru pembimbing yang turut serta mengikuti setiap sesi pemaparan proses produksi di salah satu media terbesar di group nasional Jawa Pos. "Kunjungan ke dapur redaksi memberikan pengalaman dan wawasan baru, terutama mengenai bagaimana informasi diolah mulai melakukan reportase, lalu menyusun naskah berita hingga melaporkan berita oleh reporter atau jurnalis tv hingga dibacakan oleh presenter naskah menjadi sebuah berita yang ditayangkan dilayar kaca televisi," terangnya.
Sejumlah 25 siswa dan siswi yang ikut menyimak pemaparan Produser Radar Lampung TV Jefri Ardi dengan penuh semangat mengajukan pertanyaan yang membuat mereka penasaran. Lebih menarik lagi ketika siswa dan siswi ditantang untuk melakukan aksi menjadi seorang reporter melakukan wawancara dengan narasumber lalu melaporkan berita, hingga membacakan naskah berita. Kegiatan belajar di lingkungan redaksi juga dinilai memiliki keterkaitan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia.
Dunia jurnalistik dapat menjadi contoh nyata bagi siswa maupun guru dalam memahami penulisan berita, penggunaan bahasa yang efektif, serta pentingnya ketepatan informasi. Kristinah berharap pengalaman tersebut dapat memberikan tambahan pengetahuan yang nantinya dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di SMA Negeri 1 Terusan Nunyai.
Melalui kegiatan ini, guru tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai dunia jurnalistik, tetapi juga dapat membawa pengalaman tersebut ke lingkungan sekolah. Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia diharapkan menjadi lebih kontekstual dan dekat dengan praktik di dunia nyata.
(Salsabila)

